Rabu, 16 November 2011

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta Pertanggunganjawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36)
Hati bagi anggota badan bagaikan Raja yang memerintah pasukannya. Semuanya bekerja sesuai perintahnya. Dialah yang bertanggungjawab terhadap seluruh anggota tubuh.
Rasulullah bersabda :
أَلَّا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hat”i. (HR. Bukhari dan Muslim)

- Hati Manusia terbagi menjadi 3 macam - :

HATI YANG SEHAT DAN SELAMAT
Yaitu hati yang selamat, sebagaimana telah disebutkan dalam alquran, Allah berfirman :
يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ  .  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. As Syu’aro’ : 88-89)
Adapun pengertian dari hati yang selamat di sini adalah hati yang selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah, selamat dari Syubhat (kerancuan) yang bertolak belakang dengan kebaikan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hati ini adalah hati yang selamat dari segala macam bentuk peribahatan kepada selain Allah, terlepas dari menghukumi dengan hukum selain hukum Rasul-Nya, mengikhlaskan seluruh peribadatan hanya kepada Allah. Jika dia mencintai, ia mencintai hanya karena Allah, membencipun hanya karena-Nya, memberi dan tidak memberi juga karena Allah.


HATI YANG TELAH MATI
Yaitu hati yang bertolak belakang dengan hati yang sehat dan selamat.
Hati yang sama sekali tidak mengenal Robbnya, tidak mau beribadah dengan perintah-Nya, hati yang tidak mencintai dan tidak ridho kepada-Nya. Dia berada dalam kubangan Syahwat, dia bergelimang di dalamnya dan dia tidak peduli akan kemurkaan dan kemarahan Allah.
Dialah hati yang beribadah kepada selain Allah, jika ia mencintai sesuatu, ia mencintai karena hawa nafsu belaka, begitu juga jika ia benci sesuatu maka itu hanya karena hawa nafsu. Memberi dan tidak memberi juga karena hawa nafsu. Dia jadikan hawa nafsunya sebagai imamnya, dan syahwatnya sebagai pembimbingnya, kebodohan adalah penuntunnya dan kelalaian adalah tunggangannya. Tidak mau menerima nasehat, tetapi dia lebih memilih mengikuti jalan setan. Dunia adalah tujuannya dan dia ridho tinggal di dalamnya.
Maka berkumpul dengan pemilik hati yang telah mati seperti ini merupkan bencana, bergaul dengan mereka adalah racun, dan duduk-duduk dengan mereka adalah kehancuran.


HATI YANG SAKIT
Yaitu hati yang masih ada secercah cahaya kehidupan tetapi terkadang terkotori dengan penyakit yang menimpanya. Dalam hati ini terdapat keimanan dan kecintaan kepada Allah, ikhlas dan tawakkal kepadanya, inilah yang masih membuat hati tersebut hidup. Akan tetapi kecintaannya kepada Syahwat dan dia lebih mendahulukannya lalu berusaha mendapatkannya, hasad, sombong dan ujub merupakan hal yang menyebabkan ia hancur dan binasa.
Hati yang ada di dalamnya 2 penyeru yang mengajaknya, penyeru yang mengajak kembali kepada Allah dan Rasul-Nya serta negeri akherat dan penyeru yang menyeret kepada syahwat dan fitnah dunia.
Inilah hati yang terdapat dua sisi yang berlawanan, kebaikan dan keburukan, jalan menuju kenikmatan surga dan jalan menuju kebinasaan neraka.

yang manakah hati anda wahai saudara...???

Selasa, 15 November 2011

عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: " إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ" . رواه البخاري ومسلم
Dari Amirul Mukminin, Abi Hafs Umar bin Khottob ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapat sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrah hanya karena dunia yang kehendaki atau karena wanita yang hendak ia nikahi maka ia mendapatkan sesuai yang ia tuju dari hijrahnya tersebut.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Niat adalah Keinginan Hati untuk  mengerjakan suatu perbuatan

Hadits ini merupakan hadits yang sangat penting mencakup semua ajaran islam.
Ibnu Mas’ud berkata : “Tidak ada dari Khabar nabi yang lebih luas, dan mempunyai faidah yang sangat berharga daripada hadits ini”.
Karena pentingnya perkara ini, maka Imam Bukhori membuka kitab shohihnya dengan hadits ini.

Wajib untuk mengikhlaskan niat hanya kepada Allah
Karena amalan tidak akan diterima kecuali amalan yang hanya ikhlas untuk Allah.
Hal ini telah disebutkan di dalam Al quran, Allah berfirman :

وَمَآ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا االزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُالْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyinah : 5)
Rasulullah juga bersabda :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ خَالِصاً
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali amalan yang ikhlas” (HR. An Nasa-i)

Ikhlas adalah memurnikan amalan dari keterkaitan dengan para makhluk.

Berkata Sebagian salaf : “orang yang ikhlas adalah seorang yang berusaha menutupi kebaikannya sebagaimana ia menutupi kejelekannya”.
Telah berkata Sahl bin Abdillah : “Tidak ada hal yang lebih berat bagi nafsu manusia dari pada perkara ikhlas, karena Nafsu itu sama sekali tidak menginginkan untuk ikhlas”. Kenapa hal ini terasa berat bagi nafsu manusia ? karena Nafsu manusia sangat mencintai Syahwat dan pujian.
Robi’ bin Khutsaim beliau berkata : “Segala sesuatu yang tidak diniatkan untuk mendapat wajah Allah niscaya akan sia-sia belaka”.
Berkata pula Abu Sulaiman Ad Daroni : “Jika seorang hamba berusaha untuk ikhlas, niscaya akan hilang rasa was-was dan sifat riya’.”
Berkata Imam Makhul : “Tidaklah seorang hamba mengikhlaskan niatnya selama 40 hari saja kecuali akan Nampak bias-bias hikmah dari hati dan lisannya”.
Dan juga berkata Imam Ibnu Qoyyim : “Amalan tanpa disertai dengan ikhlas dan ittiba’ ibarat seorang musafir yang memenuhi kantong perbekalannya dengan pasir, memberatkannya tetapi tidak memberikan manfaat kepadanya”.

Contoh Ikhlas para Salaf terdahulu
-          Robi’ tidak pernah terlihat melaksanakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya satu kali.
-          Adalah Abdurrohman bin Abi Laila ketika ia mengerjakan shalat malam kemudian jika ia melihat ada seorang yang hendak masuk ke kamarnya, buru-buru ia menuju tempat tidurnya dan pura-pura tidur.
-          Bercerita Istri dari Hasan bin Abi Sinan tentang suaminya : “ketika malam Dia datang menemuiku dan menimang aku seperti seorang ibu menimang putranya. Ketika ia yakin aku telah tertidur, maka ia meninggalkanku dan keluar untuk melaksanakan shalat malam”.
-          Telah berkata Abu Hamzah Ats Tsumali : “Adalah Ali bin Husen pada malam hari ia memikul kantong gandum (roti) di atas punggungnya dan ia bershodaqoh dengannya. Ia berkata : “Sesungguhnya shodaqoh secara sembunyi-sembunyi akan menghilangkan kemarahan Allah”.
-          Berkata pula Muhammad bin Ishaq masih menceritakan tentang Ali bin Husen : “Manusia di kota madinah mereka hidup tetapi tahu dari mana datangnya penghidupan yang mereka peroleh. Maka ketika Ali bin Husen meninggal dunia mereka kehilangan penghidupan yang mereka dapatkan pada malam hari”.
-          Berkata Imam Syafi’I : Aku berharap dan suka kiranya seluruh mahluk mempelajari ilmu ini -maksudnya ilmunya- sehingga tidak ada satu hurufpun yang dinisbatkan atas namaku”.

Syarat diterimanya amalan
Amal perbuatan setiap manusia tidak akan diterima di sisi Allah kecuali jika amalan itu memenuhi dua syarat, yaitu :
Pertama : Ikhlas yaitu mengikhlaskan amalan tersebut hanya mengharap wajah Allah semata.
Sebagaimana hadits yang tengah kita bahas kali ini.
Kedua : Sesuai dengan sunnah yaitu ajaran Rasulullah.
Dalilnya sebagaimana termaktub dalam hadits Aisyah :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengamalkan satu amalan yang tidak ada kaitannya dengan perkara agama kami, maka amalan tersebut tertolak”.

Niat tempatnya ada di dalam hati.
Adapun melafalkan atau mengucapkan niat dengan lisannya maka itu merupakan perkara baru dalam agama yang di ada-adakan.
Ibnu Taimiyyah berkata : “Mengucapkan niat dengan lisan merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama, karena hal ini sama sekali tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah dan juga tidak pernah dikerjakan oleh para sahabatnya”.

Dalam hadits ini terdapat keterangan tentang tahdzir atau peringatan keras dari bahaya dunia dan fitnahnya.
Rasulullah bersabda : “
إنّ مِمّا أَخَافُ عَليكُم مِن بَعدِي مَا يُفتَح عَلَيكُم مِن زَهْرةِ الدُّنْيَا
“Sesungguhnya yang aku takutkan akan menimpamu setelahku adalah dibukakannya bagi kalian pintu-pintu gemerlap keindahan dunia”. (HR. Muttafaqun Alaih)
Sahabat Ali pernah ditanya : “Beritahulah aku tentang kehidupan dunia? Beliau menjawab : “Apa yang hendak aku sifatkan? Awalnya adalah kesulitan dan akhirnya hanyalah kehancuran, halalnya akan dihisab dan keharamannya akan diadzab, Siapa yang kaya dia telah terfitnah dan barangsiapa yang miskin dia akan bersedih.